Kamis, 03 Juli 2014

IBN MISKAWAIH (PRINSIP-PRINSIP ETIKA: JIWA DAN FAKULTAS-FAKULTASNYA; KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN; KEBAJIKAN DAN KEJAHATAN)



Definisi jiwa
Dalam diri manusia adanya sesuatu yang bertentangan dengan perbuatan fisik dan bagian-bagian tubuh, baik detail maupun karakteristiknya, sementara sesuatu tersebut mempunyai perbuatanya sendiri  yang bertentangan dengan perbuatan tubuh dan karakteristiknya, sehingga dalam satu dan lain hal tidak bisa berada bersama-sama dengannya, serta ditemukan bahwa sesuatu tersebut sangat berbeda pula dengan bentuk-bentuk (‘aradh).
Jiwa adalah berbeda dengan tubuh dan bentuk, sedangkan tubuh dan bentuk itu adalah bentuk, maka dari itu jiwa bukanlah tubuh, bukan pula bagian dari tubuh, dan bukan pula bentuk. Jadi, jiwa adalah sesuatu yang tidak bisa berganti-ganti dan tidak bisa pula berubah-ubah, dan ia mengetahui sesuatu dalam drajat yang sama, tidak pernah menyusut, tidak pernah melemah, dan tidak pernah berkurang.
Jiwa seluruhnya memiliki bentuk-bentuk yang sempurna, tidak bergeser dan berubah, dan tetap memiliki bentuk yang pertama secara penuh dan sempurna. Ciri khas jiwa ini sangat kontradiktif dengan ciri khas tubuh. Kalau tubuh dapat menerima bentuk lain selain bentuknya yang pertama. Atas dasar ini, maka manusia selalu mengalami peningkatan pemahaman, manakala ia terus berlatih, lalu memproduk berbagai ilmu dan pengetahuan. Dari situ jelas bahwa, jiwa bukan tubuh!
Tubuh dan fakultas-fakultasnya dapat mengetahui ilmu-ilmu hanya dengan indera. Tubuh mendambakannya melalui kontak, seperti pada kenikmatan jasadi, keinginan balas dendam dan ego untuk menang. Jadi tubuh menerima setiap apa yang ditangkap indera. Maka dari itu, tubuh senang pada jiwa. Tubuh juga berhasrat pada jiwa. Karena jiwa yang melengkapi kesempurnaan eksistensi tubuh, meningkatkan dan menopang tubuh.
Entitas jiwa ini semakin jauh dari hal-hal jasadi, semakin sempurna dan bebas dari indera, maka semakin kuatlah dan sempurna jiwa, dan semakin mampu ia memiliki penilaian yang benar dan semakin ia menangkap Mu’qalat[1] yang simple. Jadi, subtansi jiwa lebih mulia dan tabiat yang lebih tinggi daripada semua benda di alam ini.
Secara garis besar, jiwa dapat mengetahui bahwa indera benar atau salah, maka pengetahuannya ini bukan dari indera. Karena jiwa mengetahui bahwa dirinya memahami mu’qulat-nya sendiri, ia mengetahui bukan dari sumber lain. Dengan begitu, jiwa itu tahu karena jiwa tidak pernah membutuhkan sesuatu yang lain untuk mengetahui sesuatu, kecuali dirinya sendiri. Dan itu berarti, jiwa itu tahu, karena jiwa memang mengetahui dari esensi dan substansinya sendiri yaitu akal. Untuk itu, bisa disimpulkan bahwa akal, yang berfikir (‘akil), serta obyek yang difikirkan (ma’kul).
Kebajikan jiwa dan kendala untuk mencapainya
Dengan demikian, dari pembahasan diatas jelas bahwa jiwa bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, bukan pula keadaan dalam tubuh, tetapi sesuatu yang lain dengan tubuh, baik dari segi substansinya, penilaiannya, sifat-sifat serta tingkah lakunya.
Kecenderungan jiwa pada perilakunya sendiri, maksudnya adalah pada ilmu pengetahuan dan berpalingnya dari tingkah laku tubuh, merupakan kebajikan atau keutamaannya. Oleh karena itu, keutamaan seseorang di ukur dengan sejauh mana dia mengupayakan kebajikan. Kendala untuk mencapai keutamaan ini adalah apa saja yang sifatnya badani, indrawi, serta yang berhubungan dengan keduanya. Sedangkan keutamaan-keutamaan itu sendiri tidak mungkin bisa kita capai, kecuali setelah kita suci dari perbuatan-perbuatan  keji.
Kebaikan dan kejahatan
Factor-faktor yang berkaitan dengan manusia terbagi menjadi dua bagian. Yaitu, kebaikan dan kejelekan. Karena berkat tujuan keberadaan manusia , maka individu yang memfokuskan dirinya pada tujuan itu, hingga dia mencapainya, di namakan orang yang baik dan bahagia. Adapun orang yang membiarkan dirinya dihalangi darinya, maka dia di sebut orang yang keji dan sengsara. Dengan begitu, kebaikan merupakan hal yang dapat di capai oleh manusia dengan melaksanakan kemauannya dan berupaya dengan hal yang berkaitan dengan tujuan di ciptakannya manusia. Sedangkan keburukan merupakan hal yang menjadi penghambat manusia mencapai kebaikan.
Empat kebajikan pokok dan perbuatan jahat
            Para filosof bahwa jenis-jenis keutamaan manusia ini ada empat: arif, sederhana, berani, dan adil. Untuk itulah, maka seseorang tidak akan merasa bangga kecuali pada keutamaan-keutamaan ini. Satu dari empat kebajikan ini di katakana di miliki oleh seseorang dan terpuji karenanya hanya bila kebajikan itu hanya di rasakan atau sampai pada orang lain. Akan tetapi jika kebajikan itu hanya ada pada dirinya, ia pun tidak layak di sebut bajik, dan namanya pun berubah. Maka, murah hati, bila tidak di rasakan orang lain, di sebut boros, dan begitu pula berani, di sebut angkuh. Kebalikan dari keempat keutamaan ini adalah bodoh, rakus, penecut, dan lalim.
Bagian-bagian dari kearifan
a.       Pandai (al-dzaka) merupakan cepat mengembangkan kesimpulan-kesimpulan, serta mudahnya kesimpulan-kesimpulan itu di pahami oleh jiwa.
b.      Ingat (al-dzikru) adalah menetapnya gambaran tentang apa yang telah di cerap jiwa, atau imajinasi.
c.       Berpikir (al-ta’aqul) adalah upaya mencocokkan obyek-obyek yang di kaji oleh jiwa dengan keadaan sebenarnya dari obyek-obyek ini.
d.      Kejernihan pikiran (shafau al-dzihni) merupakan kesiapan jiwa untuk menyimpulkan apa saja yang di kehendaki.
e.       Ketajaman dan kekuatan otak (jaudat al-dzihni) adalah kemampuan jiwa untuk merenungkan  pengalaman yang telah lewat.
f.       Kemampuan belajar dengan mudah (suhulat al-ta’allum) adalah kekuatan jiwa serta ketajaman dalam memahami sesuatu, yang dengan kemampuan ini maka dapat di pahami masalah-masalah teoretis.

Bagian-bagian sikap sederhana
a.       Rasa malu (al-haya) adalah tindakan menahan diri karena takut melakukan hal-hal yang tidak senonoh, dan kehati-hatian menghindari celaan dan hinaan.
b.      Tenang (al-da’at) adalah kemampuan seseorang untuk menguasai dirinya ketika di landa gejolak hawa nafsu.
c.       Sabar adalah tegarnya diri terhadap gempuran hawa nafsu, sehingga tidak terjebak busuknya kenikmatan duniawi.
d.      Dermawan (al-sakha’) adalah kecenderungan untuk berada di tengah untuk member
e.       Intregitas adalah kebajikan jiwa yang membuat seseorang mencari harta di jalan yang benar.
f.       Puas (al-qana’ah) adalah tidak berlebihan dalam makan, minum, dan berhias.
g.      Loyal (al-damatsah) adalah sikap jiwa yang tunduk pada hal-hal yang terpuji, serta bersemangat mencapai kebaikan.
h.      Berdisiplin diri adalah kondisi jiwa yang membuat jiwa menilai segalanya dengan benar dan menatanya dengan benar.
i.        Optimis (husn al-huda) merupakan keinginan melengkapi jiwa dengan moral yang mulia.
j.        Kelembutan (al-musalamah) adalah lembut hati yang sampai ke jiwa dari watak yang bebas dari kegelisahan.
k.      Anggun berwwibawa (al-wiqar) adalah ketegaran jiwa dalam menghadapi gejolak tuntutan duniawi.
l.        Wara’ merupakan pencetakan diri agar senantiasa berbuat baik, sehingga mencapai kesempurnaan jiwa.
Bagian-bagian dari berani
a.       Tegar (al-najdah) merupakan kepercayaan diri dalam menghadapi hal-hal yang menakutkan, hingga pemilik sikap ini tidak di landa kegelisahan.
b.      Ulet (‘azam al-himmah) merupakan kebajikan jiwa, yang membuat orang bahagia akibat bersungguh-sungguh.
c.       Tenang merupakan kebajikan jiwa. Dengan kebajikan ini seseorang menjadi tenang dalam menghadapi nasib baik dan nasib buruk.
d.      Tabah merupakan kebajikan jiwa yang membuat seseorang mencapai ketenangan jiwa, tidak mudah di rasuki  bisikan-bisikan yang mendorongnya melakukan kejahatan.
e.       Menguasai diri terlihat pada waktu berselisih.
f.       Perkasa adalah berkemauan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dengan harapan mendapatkan reputasi yang baik.
g.      Ulet dalam bekerja (ihtimal al-kaddi) adalah kekuatan jiwa yang menggunakan organ tubuh demi kebaikan melalui praktik dan kebiasaan yang baik.
Bagian-bagian dari dermawan
a.       Murah hati (al-karam) merupakan kecenderungan untuk mudah menginfakkan hartanya di jalan yang berhubungan dengan hal-hal yang agung dan banyak manfaatnya.
b.      Mementingkan orang lain (al-itsar) adalah menahan diri dari yang diingininya, demi memberikannya kepada orang lain yang menurut hematnya lebih berhak.
c.       Rela (al-nail) adalah bergembira hati dalam berbuat baik dan suka pada perbuatan itu.
d.      Berbakti (al-muwasah) adalah menolong teman atau orang yang berhak ditolong, dan member mereka uang dan makanan.
e.       Tangan terbuka (al-salamah) adalah membelanjakan sebagian dari apa yang tidak boleh dibelanjakan.
f.       Pengampunan adalah membatalkan bagian dari apa yang seharusnya.
Bagian-bagian dari Adil
a.       Bersahabat (al-shadaqah) adalah cinta yang tulus, yang menyebabkan orang memperhatikan masalah-masalah sahabatnya dan berbuat baik untuknya.
b.      Sedang bersemangat sosial (al-ulfah) adalah berupaya seragam dalam pendapat dan keyakinan. Semangat gotong royong dan saling menolong dalam mengatur kehidupan terkandung dalam bersemangat sosial ini.
c.       Silaturrahmi adalah berbagi kebaikan duniawi kepada kerabat dekat.
d.      Member imbalan (mukafa’ah) adalah mmbalas kebaikan sesuai dengan kebaikan yang diterima, atau malah lebih.
e.       Baik dalam bekerja sama (husn al-syarikah) mengambil dan memberi (take and give) dalam berbisnis dengan adil dan sesuai dengan kepentingan pihak-pihak yang bersangkutan.
f.       Kejelian dalam memutuskan persoalan (husn al-qadha) adalah tepat dan adil dalam memutuskan persoalan, tanpa diiringi rasa menyesal dan mengungkit-ungkit[2].
g.      Cinta (tawaddu) adalah mengharapkan cinta dari mereka yang dianggap telah merasa puas dengan cara hidup yang dicapainya.
h.      Beribadah adalah menggunakan Asma Ilahi Ta’ala, memuji-Nya, patuh dan tunduk pada-Nya, dan menghormati para “pembela-pembela”-Nya. Disebut juga mengikuti perintah syariat.
i.        Takwa pada Allah adalah puncak dan kesempurnaan faktor-faktor di atas.

Kebajikan dalam etika merupakan titik tengah antara dua ujung, dan dalam hal ini ujung-ujung itu merupakan keburukan-keburukan. Kebajikan adalah titik tengah, karena letaknya di antara dua kehinaan dan pada posisi yang paling jauh dari dua kehinaan itu. Karena itu, jika kebajikan bergeser sedikit saja dari posisinya, lalu ke posisi paling rendah, maka kebajikan itu mendekati salah satu kehinaan, dan menjadi kurang nilainya.
Para filosof berpendapat: Menembak satu titik sasaran dengan tepat lebih sulit ketimbang melencenginya, dan mempertahankan agar selamanya tembakan itu tepat akan lebih sulit lagi. Karena ujung-ujung yang disebut kehinaan, dipandang sebagai kehinaan, dipandang dari segi tindakan, keadaan, waktu, atau dari segi lainnya. Maka dari itu sebab-sebab kejelekan lebih banyak daripada sebab-sebab kebaikan. Karena itu, kita harus mencari titik tengah dari semua sebab-sebab kejelekan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Miskawaih, Abu Ali Akhmad, Menuju Kesempurnaan Akhlak, diterjmahkan dari Tahdzib Al-Akhlaq, Bandung: Penerbit Mizan, 1994.


[1] Mu’qulat adalah hal-hal yang bersifat penlaran yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan dipikirkan, yang merupakan lawan dari hal-hal yang inderawi.
[2] Menungkit-ungkit (al-mannu) adalah member tahu orang lain bahwa telah melakukan kebaikan ini dan itu, agar diketahui masyarakat luas.

TASAWUF DAN PROBLEMA KEMODERNAN (STUDI BIDANG PSIKOLOGIS)



I.             PENDAHULUAN
Secara naluriah, manusia selalu berusaha menyandarkan hasrat kehidupannya kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan absolut. Hal ini bisa terlihat dalam rentangan sejarah kehidupan mamnusia, baik pada zaman klasik sampai kepada kondisi kekinian. Pada zaman klasik, manusia banyak menyandarkan keyakinannya kepada benda-benda yang dinggap sakti, keramat dan lain sebagainya.[1] Pada zaman modern, dikarenakan rasionalitas manusia sudah mengalami kemajuan, kepercayaan seperti ini sudah tidak begitu kental berada ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa tanpa adanya ajaran agama langit yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat, mereka akan berusaha membentuk sebuah keyakinan berdasarkan kemampuan, pengalaman dan ilmu yang mereka miliki.
Era modern ini juga ditandai dengan kemajuan di segala bidang pada kenyataanya malah memanjakan manusia. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan membuat manusia menjadi malas dan tidak sehat. Padahal di sisi kehidupan manusia yang tidak bisa di gantikan dengan mesin. Manusia menjadi terasing dengan dunianya sendiri, sehingga manusia kehilangan eksistensinya sebagai manusia yang multi dimensi.[2]
Selama ini manusia modern mementingkan dimensi material daripada spiritual. Dimensi material ini dijadikan segalanya dalam kehidupan manusia. Bahkan segala sesuatu seperti kebahagiaan dan kesuksesan hidup yang sebenarnya lebih terkait dengan psikologi kehidupan pun juga diukur secara materialistik.

II.          RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian problema kemodernan?
B.     Apa saja problem kemodernan di bidang psikologi?
C.     Bagaimana peran tasawuf dalam mengatasi problem tersebut?

III.       PEMBAHASAN
A.    Pengertian Problema Kemodernan
Mohammed Arkoen dalam melihat komodernan, menyatakan jika kemodernan yang berasal dari bahasa Latin “Modernus” pertama kali di pakai oleh dunia Kristen pada tahun 490 sampai 500. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan perpindahan masa Romawi klasik ke masa modern. Kemodernan manusia di zaman sekarang menurut Arkoen, tidak terlepas dari kemodernan di zaman kemajuan Islam abad 7 – 12 M dan kemajuan Eropa abad 12 – 15 M. Oleh karena itu, tidak mustahil jika kemodernan itu bisa saja terjadi di tengah-tengah umat manusia manapun, termasuk umat Islam, di masa akan datang, walaupun tentu saja tidak dari titik nol lagi.[3]
Arkoen menjelaskan bahwa kemodernan memiliki dua sisi : material dan intelektual/budaya. Sisi material adalah sisi kemodernan yang berada di bingkai luar dari  wujud manusia, sedangkan sisi intelektual adalah sisi yang mencakup berbagai metode alat analisis dan sikap intelektual yang memberikan kemampuan untuk lebih memahami kenyataan.[4] Namun, yang terjadi di realita masyarakat, manusia cenderung mengalami kemodernan yang tidak sempurna. Kemodernan yang dialami masyarakat, terkadang hanya terletak pada sisi materialnya saja. Intelektual dan budayanya, rata-rata masih tradisional, dan terkadang juga primitif.
Kemodernan sesungguhnya, adalah kombinasi antara dua sisi tadi, yakni modern materialnya dan modern intelektualnya. Intelektual akan sulit menjadi modern tanpa adanya kemodernan material/alat. Begitu juga sebaliknya, kemodernan material akan sulit terjadi jika tidak ada faktor pendukung lain, yakni intelektual.
Sebagian masyarakat menganggap jika modernisasi, merupakan perjuangan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi atau lebih makmur dari sebelumnya. Mereka berpandangan jika kemakmuran material mempunyai akibat pada bidang-bidang non ekonomi seperti sosial, politik, pertahanan, dan bidang-bidang lainnya. Sebaliknya, kemunduran ekonomi akan mengalami kemunduran di aspek lainnya. Dan mereka (sebagian masyarakat) non Barat melakukan modernisasi di segala aspek kehidupan.
Kemudian, zaman modern ditandai dengan adanya arus globalisasi yang tidak terhindarkan mengakibatkan dunia terbentuk menjadi sebuah desa global (global village) yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hampir tidak ada batas jarak, ruang, dan waktu.
Arus globalisasi sebagaimana tampak sekarang ditandai oleh proses reformasi informasi dan cara kerja manusia. Seperti beralihnya pekerjaan kantor dan pabrik yang terpusat (sentralisasi) kepada pekerjaan di rumah-rumah di depan komputer, internet dan sebagainya (desentralisasi). Keadaan ini menimbulkan efek negatif dimana manusia berada dalam kondisi terisolasi dan terasing dari norma-norma yang ada dalam masyarakat, baik agama maupun sosial. Gejala-gejala ini umumnya terjadi di perkotaan, dan sudah mulai pula merambah wilayah pedesaan.
Ketika inovasi teknologi mempunyai tempat penting dalam masyarakat, inovasi juga membawa gaya hidup yang membahayakan. Pola-pola aktivitas manusia sebagian besar berkutat disekitar wacana. Mungkin wacana berfungsi sebagai medium penting dalam hubungan yang dijalin. Karena wacana berada dalam pasar terbuka, yang ditandai oleh kekacauan dan perubahan yang menyebar dengan cepat. Maka pola-pola tindakan manusia itu akan terus terjadi selamanya.
Sebenarnya zaman modern ditandai dengan dua hal sebagai cirinya, yaitu:
a.       Penggunaan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia
b.      Berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai wujud dari kemajuan intelektual manusia.[5]
B.     Problem-problem Kemodernan di Bidang Psikologi
Manusia modern adalah manusia yang berfikir logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Semestinya manusia modern lebih bijak dan arif dengan kecerdasan dan teknologi, akan tetapi dalam kenyataanya banyak manusia yang kualitas kemanusiaannya lebih rendah dibanding kemajuan teknologi yang dicapainya. Akibat dari tidak keseimbangan ini kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan.
Salah satu derita manusia modern adalah manusia yang sudah kehilangan makna seperti ‘manusia dalam kerangkeng’. Ia resah setiap kali harus mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang diinginkan. Para sosiolog menyebutnya sebagai gejala keterasingan alienasi[6], yang disebabkan oleh:
a.       Perubahan sosial yang berlangsung cepat
b.      Hubungan hangat antar manusia sudah berubah menjadi yang gersang
c.       Lembaga tradisional sudah berubah menjadi lembaga rasional
d.      Masyarakat yang homogen sudah berubah menjadi heterogen
e.       Stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.[7]
Begitulah manusia modern, ia melakukan sesuatu bukan karena ingin melakukannya, tetapi karena merasa orang lain menginginkan agar ia melakukannya. Ia sibuk meladeni keinginan orang lain sampai ia lupa kehendak sendiri.
Gangguan Kejiwaan Manusia Modern
Sebagai akibat problema moderinitas yang telah disebutkan maka manusia modern mengidap gangguan kejiwaan antara lain:
a.      Kecemasan
Perasaan cemas yang diderita manusia modern bersumber dari hilangnya makna hidup. Sebagaimana fitrah manusia memiliki kebutuhan akan makna hidup. Makna hidup dimiliki seseorang manakala ia memiliki kejujuran dan merasa hidupnya dibutuhkan oleh orang lain dan telah mengerjakan sesuatu yang bermakna untuk orang lain.[8]
Sebagai contoh para pejuang yang memiliki dedikasi tinggi untuk apa yang ia perjuangkannya, ia sanggup berkorban, bahkan korban jiwa sekalipun. Meskipun yang dilakukan pejuang itu untuk kepentingan orang lain tetapi dorongan untuk berjuang lahir dari diri sendiri bukan untuk memuaskan orang lain.
Adapun manusia modern justru tidak memiliki makna hidup, karena mereka tidak memiliki prinsip hidup. Segala yang dilakukannya adalah mengikuti trend, mengikuti tuntutan sosial, sedangkan tuntutan sosial belum tentu berprinsip yang mulia. Sehingga ia diperbudak untuk melayani perubahan. Karena merasa hidupnya tidak bermakna, tidak ada dedikasi dalam perbuatannya, maka ia dilanda kegelisahan dan kecemasan yang berkepanjangan.
b.      Kesepian
Sebagai akibat dari hubungan manusia yang gersang, di kalangan masyrakat modern yang tidak lagi tulus dan hangat. Manusia modern ini merasa sepi, meski ia berada ditengah keramaian. Ini disebabkan karena semua manusia modern menggukan topeng-topeng sosial untuk menutupi wajah kepribadiannya.
c.       Kebosanan
Karena hidup tidak lagi bermakna, dan hubungan dengan manusia lain terasa hambar krena ketiadaan ketulusan hati, kecemasan yang selalu menganggu jiwanya dan kesepian yang berkepanjangan, menyebabkan gangguan kejiawaan yang berupa kebosanan.
Kecemasan dan kesepian yang berkepanjangan akhirnya membuat bosan, bosan kepada kepura-puraan, kepada kepalsuan, akan tetapi tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan kebosanan tersebut.
d.      Perilaku Menyimpang
Kecemasan, kesepian dan kebosanan yang diderita berkepanjangan menyebabkan seorang tidak tahu persis apa yang harus dilakukan. Dalam keadaan jiwa yang kosong dan rapuh ini seseorang tidak mampu berfikir jauh. Maka yang terjadi mudah sekali diajak atau dipengaruhi untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan meskipun perbuatan itu menyimpang dari norma-norma moral. Misalnya terpengaruh dengan obat-obat terlarang.
e.       Psikosomatik
Gangguan psikosomatik adalah gangguan jiwa yang dimanifestasikan pada gangguan susunan saraf vegetatif yang sebagian besar disebabkan oleh permusuhan,depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi. Gangguan ini menggambarkan interaksi yang erat antara jiwa (psycho) dan badan (soma).[9] Psikosomatik adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh factor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya.
Penderita psikosomatik biasanya selalu mengeluh merasa tidak enak badan, jantungnya berdebar-debar, merasa lemah dan tidak bisa konsentrasi. Wujudd psikosomatik bisa dalam bentuk syndrom, trauma, stress, ketergantungan pada obat penenang/alkohol/narkotika atau perilaku menyimpang.[10]
Jadi, psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan fisik dan mental. Yang sakit sebetulnya jiwanya tapi menjelma dalam bentuk sakit fisik.

C.    Peran Tasawuf dalam Menghadapi Problema Psikologis
Konsep tentang potensi dasar dan perkembangan jiwa manusia, dalam ajaran tasawuf mempunyai peluang untuk mengaktualisasikan potensi dasar tersebut. Dengan kehendak bebasnya manusia diberi kebebasan untuk memilih maju atau mundur, dimna pilihan ini lah yang dapat merubah kondisi psikologis manusia. Sebagaimana firman Allah Swt. pada surat Ar-Ra’d ayat 11, yang berbunyi:
 وَإِذَا بِأَنْفُسِهِمْ مَا يُغَيِّرُوا حَتَّى بِقَوْمٍ مَا يُغَيِّرُ لا اللَّهَ إِنَّ…
• وَالٍ مِنْ دُونِهِ مِنْ لَهُمْ وَمَا لَهُ مَرَدَّ فَلا سُوءًا بِقَوْمٍ اللَّهُ أَرَادَ
Artinya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Sudah sejak awal bahwa tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (taqarrub ila Allah). Akan tetapi, ini menunjukkan betapa kita pada saat ini masih jauh dari-Nya, karena kita sekarang hidup di perantauan jauh dari asal dan tempat kembali kita yang sejati.
Tasawuf bukan hanya menyadarkan kita akan keterpisahan dari sumber dan  tempat kembali kita yang sejati. Tetapi juga sekaligus menjelaskan kepada kita dari mana kita berasal dan kemana kita akan kembali. Dengan demikian tasawuf memberi kita arah dalam hidup kita.
Dari ajaran para sufi, kita jadi paham bahwa manusia itu bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual, di samping fisiknya, yang memiliki asal-usul spiritualnya pada Tuhan. Dengan menyadari betapa manusia itu juga makhluk spiritual, maka lebih mungkin kita akan bertindak lebih bijak dan seimbang dalam memperlakukan diri kita. Dengan memperhatikan kesejahteraan, kebersihan dan kesehatan jiwa.[11]
Dalam menjawab problema psikologis, tasawuf mengajarkan tentang hidup bahagia. Hidup bahagia haruslah hidup sehat, karena orang yang tidak sehat alias sakit mungkin sekali tidak bahagia. Hidup sehat meliputi fisik dan jiwa.

1.      Kesehatan Fisik
Kesehatan fisik dalam ajaran tasawuf tergantung pada makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang dikonsumsi harus sehat dan halal. Makanan dan minuman yang tidak sehat dapat menimbulkan penyakit, dan yang haram dapat mendorong kepada pembentukan karakter yang buruk merupakan cermin jiwa yang tidak sehat.[12]
Makanan haram bukan hanya babi dan minuman yang haram. Tetapi juga penghasilan yang diperoleh dengan cara haram, seperti hasil curian dan korupsi.
Selain sehat dan halal, dalam tasawuf makanan dianjurkan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan, serta sebaiknya tidak terlalu banyak mengkonsumsi daging, karena daging dapat membentuk karakter yang keras, padahal kita dianjurkan bersikap lemah lembut kepada sesama makhluk lainnya.[13]
Mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan juga sejalan dengan gerakan kembali ke alam (back to nature).
2.      Kesehatan Jiwa
Selain makanan dan minuman, ibadah seperti shalat, puasa dan dzikir juga ikut berpengaruh terhadap kesehatan fisik maupun jiwa. Shalat selain untuk beribadah ataupun melatih jiwa juga terdiri atas beberapa posisi tubuh yang masing-masing berdampak positif bagi kesehatan.
Misalnya sujud, dengan posisi ini lutut yang membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot-otot perut berkembang dan mencegah timbulnya kegembyoran di bagian tengah, menambah aliran darah ke bagian atas tubuh terutama kepala (termasuk mata, telinga dan hidung) dan juga paru-paru.
Selain shalat, puasa juga mengandung manfaat bagi kesehatan. Puasa adalah berpantang dari makanan, minuman dan berhubungan seks mulai dari waktu imsak sampai maghrib.
Dengan berpuasa, maka fungsi-fungsi tubuh diistirahatkan dan diberi peluang untuk segar kembali. Selama berpuasa kegiatan yang biasa dalam pencernaan dikurangi, sehingga memungkinkan tubuh untuk mengeluarkan bahan-bahan yang tidak berguna serta memperbaiki kerusakan akibat kesalahan pola makan yang berlangsung lama.
Ibadah lain yang berdampak positif terhadap kesehatan adzikir. Dzikir berarti mengingat, menyebut atau mengagungkan Allah dengan mengulang-ngulang salah satu namanya atau kalimat keagungannya.[14]
Dengan dzikir, pikiran dan perasaan dapat menjadi tenang, sehingga orang akan hidup sehat, terhindar dari penyakit-penyakit yang biasa timbul dari gangguan jiwa, seperti stress.
Dzikir juga akan membentuk akselerasi mulai dari renungan, sikap, aktualisasi sampai memperhatikan alam. Dzikir berfungsi untuk memantapkan hati, energi akhlak, terhindar dari bahaya dan terapi jiwa yang semua fungsi tersebut sangat diperlukan oleh manusia sekarang ini yang cenderung sekuler.


IV.       KESIMPULAN
Zaman modern ditandai dengan adanya arus globalisasi yang tidak terhindarkan mengakibatkan dunia terbentuk menjadi sebuah desa global (global village) yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Hampir tidak ada batas jarak, ruang, dan waktu. Dari itulah akan menimbulkan efek negatif dimana manusia berada dalam kondisi terisolasi dan terasing dari norma-norma yang ada dalam masyarakat, baik agama maupun sosial.
Salah satu derita manusia modern adalah manusia yang sudah kehilangan makna seperti ‘manusia dalam kerangkeng’. Ia resah setiap kali harus mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yang diinginkan. Para sosiolog menyebutnya sebagai gejala keterasingan alienasi. Dan derita ini bisa menyebabkan gangguan kejiwaan atau gangguan psikologis seperti: Kecemasan, Kesepian, Kebosanan, Perilaku Menyimpang dan Psikosomatik.
Maka dari itu tasawuf sangat berperan penting dalam mengatasi problem psikologis yang terjadi di era modern ini, yang sudah kehilangan makna yang disebut keterasingan (alienasi) yang disebabkan oleh: Perubahan sosial yang berlangsung cepat, Hubungan hangat antar manusia sudah berubah menjadi yang gersang, Lembaga tradisional sudah berubah menjadi lembaga rasional, Masyarakat yang homogen sudah berubah menjadi heterogen, Stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.
Dari problem tersebut, tasawuf menawarkan agar manusia modern kembali pada yang sejati, sebagai fitrah manusia sejak lahir yang dibekali nilai-nilai rohani atau spiritual dengan memperhatikan kesejahteraan, kebersihan dan kesehatan jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/03/11/gangguan-psikosomatik/ di unduh pada pukul 22.15 WIB. Tanggal 14 Mei 2014.
Kartanegara, Mulyadhi, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006.
Madjid, Nurcholis, dkk, Manusia Modern Mendamba Allah: Renungan Tasawuf Positif, Jakarta: IIMaN dan Penerbit Hikmah, 2002.
Meuleman, Johan Hendrik, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme: Memperbincangkan Kembali Pemikiran Mohammed Arkoen, Yogyakarta: LkiS, 1996.
Nasution, Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, Jakarta: UI Press, 1985.
Suratman, Junizar, Spiritualitas dan Radikalisme dalam Perspektif Filsafat Agama, Padang: Puslit Press, 2011.
Tebba, Sudirman, Tasawuf Positisf, Bogor: Kencana, 2003.


[1] Dalam kajian antropologi Manusia, ada beberapa kepercayaan sebagai bentuk pelampiasan hasrat bertuhannya manusia.  Kepercayaan tersebut dikelompokkan pada beberapa kelompok yaitu : (1) Dinamisme, yaitu agama pada masyarakat primitif yang percaya keapada kekuatan (magic) yang terdapat pada benda-benda yang di anggap keramat, (2) Animisme, yaitu kepercayaan kepada roh-roh, (3) politeisme, yaitu kepercayaan kepada dewa-dewa. Ketiga kelompok agama ini digolongkan kepada agama yang dianut oleh masyarakat primitif. Lihat: Junizar Suratman, Spiritualitas dan Radikalisme dalam Perspektif Filsafat Agama, Padang: Puslit Press, 2011, hal. 12-13.
[2] Pada dasarnya manusia mempunyai dua dimensi yaitu rohani dan jasmani. Tubuh (jasmani) manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan meteriil. Sedangkan rohani manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Lihat: Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 30.
[3] Johan Hendrik Meuleman, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme : Memperbincangkan Kembali Pemikiran Mohammed Arkoen, Yogyakarta: LkiS, 1996, hal. 100.
[4] Ibid., hal. 105.
[5] Nurcholis Madjid, dkk, Manusia Modern Mendamba Allah: Renungan Tasawuf Positif, Jakarta: IIMaN dan Penerbit Hikmah, 2002, hal. 167.
[6] Konsep alienasi atau keterasingan yang lahir dari pemikiran Karl Marx adalah muncul akibat adanya kapitalisme yang mengguncang Eropa pasca revolusi industri. Alienisasi adalah hasil dari eksploitasi Kapitalisme terhadap buruh dengan mengartikanya sebagai modal. Alienasi atau Keterasingan terjadi jika semakin banyaknya modal terkumpul untuk Kapitalis, dan semakin miskin pula si Buruh akibat dari hasil eksploitasi si kapitalis.
Lihat: http://jannastudi.blogspot.com/2013/10/konsep-alienasi-keterasingan-karl-marx.html di unduh pada pukul 21.36 WIB. Tanggal 14 Mei 2014.
[7] Nurcholis Madjid, dkk, op.cit., hal. 168-169.
[8] Ibid., hal. 171.
[10] Nurcholis Madjid, dkk, op.cit., hal. 174.
[11] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006, hal. 272.
[12] Sudirman Tebba, Tasawuf Positif, Bogor: Kencana, 2003, hal. 29.
[13] Ibid., hal. 30.
[14] Ibid., hal. 39.